Oplosan
“Kuberi
kau kekuatan sihir. Tapi lenyapkan dia!”
Alkisah,
hidup seorang gadis. Ia tinggal bersama ibu dan saudara tirinya. Ibu kandungnya
pergi entah ke mana. Markonah, selalu menjadi target suruhan dari Sasha dan
Sishi. Suatu hari ada pesta dansa di istana. Semua warga diundang. Markonah
ingin sekali mengikutinya. Sayang, dia dilarang oleh ibu tiri dan saudara
tirinya. Akhirnya dia ditinggal sendiri di rumah. Hatinya sedih, detak
jantungnya tak menentu, urat-urat saraf mengendur, encok kambuh.
Tiba-tiba
muncul secercah cahaya. Bukan senter bapak-bapak yang lagi ronda, bukan juga
layar HP ABG zaman sekarang yang cahaya HP-nya lebih terang dari otaknya.
Ternyata itu adalah ibu peri yang sering muncul di dongeng-dongeng.
“Kamu
kenapa sedih?”
“Ah,
jangan sok-sokan nanya lah. Situ kan ibu peri, pasti tahu kan kenapa gua
sedih?”
“Hehe.
Tahu aja. Ya kan basa-basi dulu. Nanti kalau langsung nolong dikira gak sopan.”
“Ibu
peri, aku ingin sekali pergi ke pesta dansa itu. Aku kan sudah lama bisa dansa.
Siapa tahu di sana aku bisa berdansa dengan pangeran. Tapi pakaianku hanya
tinggal ini, aku malu.”
“Yaudah
jangan bersedih.” Ibu peri mengayunkan tongkat sihirnya. Dan ulala. Markonah
kini menjadi terlihat sangat cantik dengan baju yang indah.
“Sekarang
kamu bisa pergi ke pesta dansa itu. Tapi ingat, sebelum jam 12 malam kamu harus
kembali karena sihir ini akan berakhir pada jam 12.”
"Jam
12 tepat?"
"Iya."
"Gak
molor2 kayak orang biasanya?"
"Ya
enggak lah."
“Terima
kasih ibu peri.” Ucapnya lembut sambil berjalan ke istana raja.
Markonah
tidak terlambat. Saat tiba di istana, acara baru saja mulai. Markonah
deg-degan. Hatinya cenat cenut. Ombak di lautan pasang surut. kulit manggis ada
ekstraknya. Selangkah demi selangkah dia mendekati pintu masuk istana yang
dijaga oleh dua penjaga yang menjaganya. Pintu terbuka dan terlihat banyak
sekali orang sedang berdansa. Dia kaget. Bukan kaget karena banyak orang atau
kaget melihat tempat yang mewah. Dia kaget karena ternyata itu pesta dansa oplosan.
Semua yang ada di dalam sedang asyik goyang oplosan. Markonah menganga tidak
percaya. Goyang oplosan kan goyangan kesukaannya.
Ia
langsung nimbrung dan berjoget dengan semangat. Keluwesan gerakannya membuat
seluruh peserta dansa terpukau, termasuk sang raja. Akhirnya mereka duet di
depan barisan. Tak terasa waktu menunjukkan pukul 11.55. Dia teringat akan
peringatan ibu peri. Dengan tergesa-gesa dia berlari keluar istana. Karena
terlalu terburu-buru, dia sempat jatuh beberapa kali dengan gaya jatuh yang
beragam. Pangeran mengejarnya. Namun, pengalaman markonah mengikuti beberapa
kali kejuaraan lomba lari tingkat RT membuatnya tak terkejar. Sayang, sepatunya
tertinggal. Kedua-duanya.
Markonah
masih berlari.
“Sial.
Aku lupa kalau lagi masak nasi.”
Sampai
di rumah, ia segera bergegas ke dapur. Nasi telah menjadi bubur. Ya emang sudah
jadi bubur. Dia takut kalau ibu tirinya melihat pasti akan kena marah. Akhirnya
diam-diam ia akan membuang bubur itu dan memasak nasi lagi. Bubur dilemparnya
ke luar jendela. Sial. Ibu tirinya melihat kelakuannya. Sialnya lagi, bubur
yang dilempar kena baju kesayangan ibu tiri. Sial lagi, baju itu sedang
dipakai. Kemarahan ibu tiri menjadi tiga kali lipat hingga hampir-hampir dia
menjadi super saiya. Markonah langsung dikurung dalam ruangan kecil. Setelah
suasana mulai kondusif, Markonah berusaha kabur dan berhasil.
Markonah
sangat sedih. Dia tidak tahu harus hidup di mana. Akhirnya dia memutuskan untuk
tidur di emperan toko yang sudah tutup. Rasa kantuknya yang kuat membuatnya
tertidur, mengalahkan rasa dingin dan gatal yang menyerangnya.
Matahari
menunjukkan sinarnya. Ayam jago menunjukkan kokoknya. Pemilik toko menunjukkan
barang dagangannya. Tapi alangkah kagetnya ia melihat seorang gadis tidur di
depan tokonya. Dengan kesal pemilik toko itu membangunkan gadis itu. Beraneka
ragam cara dia lakukan. Tetapi markonah tetap tertidur pulas. Dia menjadi
bingung. Anak pemilik toko itu keluar dan bertanya penuh penasaran pada
bapaknya.
“Mbak-mbak
itu kenapa, Pa?”
“Dia
tidur di sini dan susah dibangunin.”
Gadis
cilik itu mendekati gadis yang lebih tua, mengamati dengan penuh konsentrasi,
mengernyitkan dahi.
“Pa,
Papa, jangan-jangan mbak ini kayak yang ada di cerita putri tidur. Dia baru
bisa bangun kalau dicium oleh pangeran.”
Si
pemilik toko bingung. Mana ada putri tidur di dunia nyata. Kalau polisi tidur
memang ada. Petinggi yang lagi rapat tidur juga ada. Banyak malah. Ia pun
melanjutkan membangunkan Markonah dengan variasi aktivitas yang berbeda-beda
dengan intensitas yang berbeda-beda pula. Sayang seribu sayang, markonah tak
kunjung bangun. Pemilik toko merasa putus asa dan memutuskan untuk membiarkan
gadis itu tidur dengan konsekuensi kenyamanan pengunjung tokonya akan
terganggu. BTW, toko itu adalah toko furniture tempat tidur. Ya lumayan bisa
dijadikan tokoh peraga.
Ternyata
kehadiran gadis tidur di toko tempat tidurnya membuat tokonya makin laris.
Semua orang tertarik dengan dagangannya. Orang berpikir, di emperan tokonya
saja orang bisa tidur nyenyak, apalagi tidur di tempat tidur yang dijual. Pasti
lebih nyenyak. Dan dalam satu hari dia bisa menjual 137 tempat tidur,
memecahkan rekor penjualan toko sebelah. Betapa bahagianya si pemilik toko.
Akhirnya terpikirkan untuk merawat si Markonah. Namun, beberapa saat kemudian,
datang seorang ibu-ibu membawa gagang ember beserta ember dan airnya. Lalu ia
menyiramkannya ke Markonah.
“Dasar
anak kurang ajar! Minggat molor aja kerjaannya. Bangun! Pulang! Banyak cucian
di rumah.”
Markonah
terbangun dan ketakutan. Ia diseret ibu itu ke rumah. Ternyata dia adalah ibu
kandungnya.
“Abis
dari mana aja lu? Pasti main di rumah tante itu lagi. Dasar!”
Markonah
diam, sedih kembali ke nasib aslinya, dianaktirikan oleh ibu kandungnya.
Sesampai di rumah dia disuruh mencuci pakaian kotor di sungai. Begitu terus setiap hari.
“Kan
ada Siriwati, Nyak?”
“Heh!
Dia itu anak tiri enyak. Harus disayang. Lah elu tuh anak kandung. Harus lebih
berbakti.”
Markonah
pergi ke sungai dengan perasaan sedih.
“Siapa
yang sampai sini lebih dulu. Dia yang menang. “
“Aku
tidak takut.”
“Dasar,
kamu ini jalannya lambat masih saja sok optimis”
“Heh
jaga mulutmu! Dasar makhluk paling sombong sedunia.”
Markonah
mendengar percakapan kancil dan kura-kura yang sedang adu mulut akan lomba
lari. Akhirnya terlintas ide di pikirannya.
“Heh
kalian berdua, ngapain kalian?”
“Eh,
ada mbak-mbak. Kami lagi mau balap lari, Mbak.” Jawab si kancil.
“Tidak
baik saling mengejek seperti itu. Kita diciptakan Tuhan itu dengan kelebihan
kekurangan masing-masing. Mungkin kancil bisa berlari lebih cepat dan itu menjadi
kelebihanmu. Dan lari cepat adalah yang tidak dimiliki kura-kura. Maka dari itu
tidak adil kalau kalian lomba lari. Itu artinya kalian hanya mengandalkan
kelebihan kalian tanpa mempedulikan kelebihan yang lainnya, yaitu si kura-kura.
Jangan seperti pendidikan di salah satu negara di dunia yang menyamakan
kemampuan semua muridnya. Muridnya pinter olahraga, eh disuruh pinter
matematika. Kalau gak bisa, dianggap bodoh. Kan lucu.”
Kancil
dan kura-kura terdiam sejenak mendengar petuah dari Markonah. Adem rasanya.
“Lalu,
kami harus bagaimana mbak?”
“Sini
kalian ikut aku ke sungai." Mereka sampai sungai.
“Kancil,
kamu memiliki kelebihan bergerak cepat. Dan kamu kura-kura, kamu memiliki
tempurung yang keras. Jadi, kancil, ini ada pakaian kotor. Kamu bawa satu per
satu pakaian ini ke sungai itu, lalu cuci di atas tempurung kura-kura. Setelah
bersih, kamu jemur di batu di sana. Dengan demikian kelebihan kalian akan
menjadi manfaat bagi makhluk lain. Mengerti?”
Tanpa
berpikir panjang mereka menjalankan perintah itu. Di sisi lain, Markonah pergi
meninggalkan sungai dan singgah di sebuah salon.
“Full
service, Jeng!”
“Dia
meninggalkan sepatunya. Siapkan pasukan! Kita akan cari orang yang cocok dengan
sepatu ini dan dia akan jadi istriku.”
Pagi
harinya petugas kerajaan bersama sang raja berkeliling ke setiap rumah untuk
mencari gadis yang pas dengan sepatu itu. Akan tetapi memasuki senja, tidak ada
hasil. Raja memutuskan untuk membuat sayembara besar-besaran. Barang siapa yang
bisa menemukan orang yang pas dengan sepatu tersebut, akan diberikan bayaran
yang sangat besar. Orang pun tergugah hatinya. Biasa, mau bekerja asal ada
bayarannya. Much money my boy, no money goodbye. Hasilnya, hari kedua banyak
sekali wanita yang antre (Antre ya bukan antri) untuk menjajal sepatu itu di
istana. Dari peserta nomor 1 sampai 2017 tidak ada satu pun yang cocok dengan
sepatu itu. Raja pun akhirnya frustrasi.
“Aku
harus menemukan dia. Masa’ tidak ada yang pas dengan sepatu ini. Kan cuma
tinggal masukin kaki, kayak gini. Nah, masuk kan? Masa’ gini aja tidak ada yang
pas.”
Eits,
tunggu dulu, masuk! Ternyata sepatu itu pas dengan kaki sang raja. Seperti
terkena sengatan petir. Raja pun langsung berubah.
“Amboi,
cucok binggo sih sepatu ini. Kalau eike pekong sepatu ini, pasti banyak cowok
yang jatuh cintrong sama eike. Mangkal yok baaang!”
Raja
yang sekarang mungkin lebih tepat disebut rejong berlari keluar, turun ke
jalan, ke perempatan, dengan radio kecil, menghibur pengguna jalan dan menggoda
para pria. Ada pengguna jalan yang merasa jijik, ada pula pengguna jalan yang
gak peduli. Gak peduli keselamatan pengguna jalan lainnya maksudnya. Ya, kalau
lampu merah diserobot, lampu sein ke kanan beloknya ke kiri, gak pakai helm,
kebut-kebutan, semacam itu lah.
Saat
berteduh dari sengatan sinar matahari yang mulai tidak bersahabat seperti tidak
bersahabatnya dua manusia yang terpisah oleh gawai, rejong melihat brosur kecil
menempel di tembok. LOWONGAN PEGAWAI SALON. SATU BULAN BISA BELI RUMAH.
Itu
kan passionnya. Ia merasa tertarik dan merasa ngamen di perempatan bukanlah
passionnya dan itu sama artinya dengan tidak mencintai dirinya sendiri. Ia
pulang ke istana keraje’ong dan mempersiapkan untuk wawancara besoknya.
Ayam
berkokok, tanda itu ayam. Kalau mengaum itu singa. Kalau mengeluh itu manusia
menye, eh sapi maksudnya. Ia mendatangi salon “Ketombe”.
"Pak
saya mau melamar kerja di sini."
"Enak
aja panggil eike pak"
"Om?"
"Ihh
amit-amit dipanggil om, kayak telolet aja. Panggil eike miss. Miss Talita."
"Baik
Miss Talita, eike, eh saya, mau ngelmar kerja di sini."
"Yaucis,
besok yeti langsung kerjong. Sekaria eikye ngantuka tunggal ika. Mau bobo
cantik dulu."
Rejong
pun senang bukan meong karena diterimong tanpa ujian. Ia lalu mempersiapkan
diri untuk kerja esok harinya.
Tak
disangka, rejong berhasil memanfaatkan kepercayaan Miss Talita dengan baik. Banyak
pelanggan yang puas dengan garapan rejong. Ia pun naik gaji kayak tukang bubur.
Eh itu naik haji ya. Wqwq.
Suatu
saat ada customer wanita mendatangi salon Ketombe.
"Full
service, Jeng!"
Rejong
kaget setengah mati. Dia tidak asing dengan wanita itu. Malam itu. Goyang
oplosan itu. Dia masih ingat betul betul betul. Tapi dia tidak mau malu kalau
langsung menanyainya. Diam-diam dia mengganti lagu yang ada di salon dengan
lagu oplosan. Tapi wanita itu hanya diam saja.
"Duh
kenapa ada lagu favorit gua di sini? Entar kalau gua joget kan malu."
Pikirnya.
Markonah
gelisah. badanya bergerak-gerak kecil. Dia gatal ingin joget oplosan tapi ia
tahan semaksimal mungkin. Berhasil. Ia berhasil menahan dirinya, tidak seperti
kebanyakan anak muda yang tidak bisa menahan diri. Musik oplosan dimatikan.
"Tuh
kan die gak jogcis, pasti bukan dia orangnya. Untung eike belum nanya. Kan malu
eike nanti." Pikirnya dalam hati. Ia memberikan perawatan rambut, wajah,
kuku, dan kaki pelanggan itu. Saat sedang memijat kakinya dia mendapat ide.
"Sis,
kakimu centis binggo. Eike punya sepatu bagus. Meong cebong?"
"Hah?
Meong cebong?"
"Mau
coba?"
"Oh,
boleh."
Dia
memakaikan sepasang sepatunya ke wanita itu dan pas. Markonah kaget melihat
sepatu itu. Rejong juga kaget menemukan dia kembali. Saking kagetnya, dia
berubah menjadi laki kembali. Di tempat itu juga rejong, eh, raja melamar Markonah.
Markonah malu-malu kucing yang gak punya malu.
"Iya.
Aku bersedia."
Betapa
bahagianya sang raja menemukan pujaan hatinya. Mereka memutar lagu oplosan
untuk merayakan pertemuan itu.
"Sudah
kuduga"
"Sudah
kuduga"
"Ibu
tiri? Ibu kandung?"
Kedua
ibu itu tampak menyeramkan. Musik berhenti seakan takut akan kehadiran dua
pemilik surga di telapak kakinya itu.
"Maafkan
saya ibu tiri, saya kabur karena saya gak betah di sana. Maaf ibu kandung, saya
meninggalkan pakaian di sungai." Markonah menangis ketakutan
"Gak
papa." Ujar keduanya.
Markonah
kaget. Semua terdiam.
"Yang
penting jogettt. Myusik!!!"
Musik
menyala lagi. Semua bergoyang dengan hati gembira, termasuk kancil yang keempat
kakinya sudah berotot seperti Ade Ray dan kura-kura yang cangkangnya sudah mulus
mengkilap seperti mutiaranya Jinny oh Jinny. Barisan goyang oplosan dipimpin
oleh duet raja dan Markonah. Salon seketika menjadi tempat pesta.
"Hahahaha."
Ibu peri tersenyum jahat sambil mengayunkan tongkat sihirnya ke arah salon.
Komentar
Posting Komentar