(KKN Life ep. 4)~K1 atau K2, Pilih Aku atau Dia~

Waktu berjalan, para atlet lari berlari, sedikit demi sedikit, dan demi apapun pengetahuan saya mengenai KKN sudah semakin terang. Sosialisasi KKN dari pihak kampus membuat mata saya terbuka akan apa itu KKN.

Salah satu yang saya tangkap dari sosialisasi tersebut adalah bahwa dalam program KKN terdapat istilah K1 dan K2.

Kaum K2 dibebaskan untuk memilih lokasi KKN dan koleganya. Hanya saja, lokasinya harus di luar DIY dan sekitarnya. Kaum inilah yang saya sebut dengan kaum "My trip is not your trip" pada tulisan sebelumnya.

Kelompok oposisi, yakni kaum K1 a.k.a Kaum Pasrah, harus rela tidak mengetahui siapa teman satu kelompoknya dan di mana mereka akan berjuang sampai pihak kampus selesai mengatur dengan segala algoritmanya. Nilai plusnya, seacak-acaknya lokasi yang diacak tetap berada di kawasan DIY juga. Cocok sekali untuk pemalas yang tidak bisa terlalu jauh dari kampung halaman seperti saya.

Tanpa piiiiiiikkkkkkkkiiiiiiiiiirrrrrrrrrrrrrrrrrrr (pikir panjang maksudnya. Gak usah ngegas), saya langsung mantap ikut golongan K1.

"Kami kelompok K1
Rela berbakti tanpa ita itu
Semangat kami 45
Eh, K2! Kalian mau KKN apa hura-hura?"

Begitulah lirik lagu mars K1 yang tidak pernah ada. Jadi abaikan saja.

Setelah masa sosialisasi, kaum K2 sudah mulai bergerilya mencari dana alias bahasa anak kampusnya “danusan”. Dengan prinsip “Segalanya bisa jadi uang”, para kaum K2 mulai berjualan apa saja, mulai dari menjual makanan, minuman, obat herbal, peninggi badan, jasa tambah follower organik, jasa rias pengantin, investasi saham dan properti, trading forex, bermain cryptocurrency, dan lain sebagainya.

Namun, sebagai kaum K1 yang belum memiliki kelompok sampai nanti saatnya telah tiba, hal itu tidak saya rasakan, atau lebih tepatnya belum.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jangan Menilai Buku dari Penjualnya

ADA APA DENGAN LAGU 'BALONKU'?

Pertemuan Istimewa dengan Dia