(KKN Life ep. 1) ~KKKN~
Di tengah dunia yang penuh hingar bingar, kegiatan kampus yang berkepanjangan, tugas-tugas kuliah yang tak berkesudahan, dan hembusan angin kesendirian, akhirnya tiba juga masa-masa yang harus dilewati oleh seorang mahasiswa yang bisa dikatakan tidak muda lagi.
Kuliah Kerja Nyata atau kalau diambil huruf pertama masing-masing kata akan terbentuk KKN, itulah tanda jika anda sudah harus ikhlas mendapat julukan tidak menyenangkan tersebut.
Memang, setiap kali saya berdandan di depan cermin, selain tercetus kalimat “Tampan sekali kamu ini.” juga ada suara kecil yang mengatakan “Semakin tua saja kamu.”
Ya, dengan berat hati saya mendeklarasikan bahwa saya siap dilantik menjadi seorang mahasiswa tidak muda. Tapi biarlah, jangan membahas soal usia karena usia itu penyanyi. Usia Sulistiyowati. Oke abaikan.
Kembali ke KKN, jujur sejujur-jujurnya, saya sangat enggan untuk menjalani KKN karena saya tidak memiliki gen seorang perantau. Jadi, untuk berada jauh dan lama dari rumah, saya merasa agak insurance. Eh insecure.
FYI saja, saya adalah seorang introvert. Tidak enaknya menjadi seorang introvert adalah ngapa-ngapain harus pakai awalan.
FYI lagi, saya juga orangnya kerap mengalami homesick (bukan rumah sakit, lho!). Baru manasin motor mau pergi ke kampus aja udah kangen pengen cepet-cepet pulang.
Sory FYI lagi, K-nya yang ada di judul kelebihan satu. Terima kasih.
Alasan lain kenapa saya cukup enggan mengikuti program KKN adalah karena pengetahuan saya yang masih minim tentang KKN. Saya tidak tahu apa yang harus dan tidak boleh saya lakukan selama KKN.
Takutnya, waktu wisuda tiba, ijazah saya tidak diberikan dengan alasan terlalu sering bermain adu domba Hago selama KKN karena ada aturan selama KKN mahasiswa tidak boleh melakukan aktivitas yang provokatif. (Eh belum ada Hago ya)
Kebetulan saya punya seorang kakak. Ya gak kebetulan sih. Mungkin lebih tepatnya saya ditakdirkan memiliki seorang kakak yang 3 tahun lebih awal merasakan KKN di kampus yang sama.
“Mas, waktu KKN dulu ngapain aja?” tanya saya dalam bahasa Indonesia.
“Swadikaap!” jawab kakak saya dalam bahasa Thailand.
Apa sih kok jadi percakapan Indonesia-Thailand.
Intinya, waktu KKN dulu, beliau bersama koleganya ditempatkan di sebuah rumah kosong dengan penghuni tak kasat mata, ditemani oleh seekor burung hantu, tanpa ada kehadiran sinyal segala provider, dan harus menjalani masa-masa berat ketika harus ‘melepaskan beban’. Haruskah sehitam itu bekal pengetahuan awal saya tentang KKN?
Kuliah Kerja Nyata atau kalau diambil huruf pertama masing-masing kata akan terbentuk KKN, itulah tanda jika anda sudah harus ikhlas mendapat julukan tidak menyenangkan tersebut.
Memang, setiap kali saya berdandan di depan cermin, selain tercetus kalimat “Tampan sekali kamu ini.” juga ada suara kecil yang mengatakan “Semakin tua saja kamu.”
Ya, dengan berat hati saya mendeklarasikan bahwa saya siap dilantik menjadi seorang mahasiswa tidak muda. Tapi biarlah, jangan membahas soal usia karena usia itu penyanyi. Usia Sulistiyowati. Oke abaikan.
Kembali ke KKN, jujur sejujur-jujurnya, saya sangat enggan untuk menjalani KKN karena saya tidak memiliki gen seorang perantau. Jadi, untuk berada jauh dan lama dari rumah, saya merasa agak insurance. Eh insecure.
FYI saja, saya adalah seorang introvert. Tidak enaknya menjadi seorang introvert adalah ngapa-ngapain harus pakai awalan.
FYI lagi, saya juga orangnya kerap mengalami homesick (bukan rumah sakit, lho!). Baru manasin motor mau pergi ke kampus aja udah kangen pengen cepet-cepet pulang.
Sory FYI lagi, K-nya yang ada di judul kelebihan satu. Terima kasih.
Alasan lain kenapa saya cukup enggan mengikuti program KKN adalah karena pengetahuan saya yang masih minim tentang KKN. Saya tidak tahu apa yang harus dan tidak boleh saya lakukan selama KKN.
Takutnya, waktu wisuda tiba, ijazah saya tidak diberikan dengan alasan terlalu sering bermain adu domba Hago selama KKN karena ada aturan selama KKN mahasiswa tidak boleh melakukan aktivitas yang provokatif. (Eh belum ada Hago ya)
Kebetulan saya punya seorang kakak. Ya gak kebetulan sih. Mungkin lebih tepatnya saya ditakdirkan memiliki seorang kakak yang 3 tahun lebih awal merasakan KKN di kampus yang sama.
“Mas, waktu KKN dulu ngapain aja?” tanya saya dalam bahasa Indonesia.
“Swadikaap!” jawab kakak saya dalam bahasa Thailand.
Apa sih kok jadi percakapan Indonesia-Thailand.
Intinya, waktu KKN dulu, beliau bersama koleganya ditempatkan di sebuah rumah kosong dengan penghuni tak kasat mata, ditemani oleh seekor burung hantu, tanpa ada kehadiran sinyal segala provider, dan harus menjalani masa-masa berat ketika harus ‘melepaskan beban’. Haruskah sehitam itu bekal pengetahuan awal saya tentang KKN?
Komentar
Posting Komentar