Jangan menilai buku dari sampulnya. Mentang-mentang sampulnya rusak, dikiranya isinya juga rusak. Mentang-mentang sampulnya warna biru, dikiranya isinya tentang lautan. Mentang-mentang sampulnya kosong, disangkanya isinya gak ada. Eh emang ada ya buku gitu. Tapi gak penting lah, intinya jangan menilai seseorang dari penampilannya saja, lebih tepatnya dari yang terlihat saja. Banyak orang menilai seseorang, tetapi ternyata salah. Saya adalah salah satu korban kesalahan penilaian tersebut. Berikut ini adalah daftar anggapan keliru orang tentang saya. 1. Pendiam Banyak yang menilai saya seorang pendiam. Tapi sebenarnya tidak. Mulai bangun tidur, jiwa raga saya terus bergerak. Saya bangun tidur, mandi, gosok gigi, membersihkan tempat tidur, berpikir, berjiwa besar, berani mati untuk nusa dan bangsa, dan lain-lain. Kalau saya pendiam, pasti saya akan diam dalam jangka waktu yang lama. Hal itu hanya bisa dilakukan oleh ...
Suatu hari saat sedang melihat anak kecil yang sedang bermain dengan penuh kesenangan, kegembiraan, kenyamanan, kesempurnaan cinta, tiba-tiba saya tidak terbayang akan sebuah balon. Tapi organ wicara saya dengan sendirinya (cie sendiri, kayak orangnya) menyanyikan lagu balonku ada lima. Awalnya sih biasa-biasa saja, tapi kok lama-lama gak sebentar ya? Lama-lama kayak ada rasa curiga gitu dengan lirik lagu tersebut. Akhirnya saya memutuskan untuk merenung, mencari-cari makna lagu tersebut. Jangan-jangan lagu itu memiliki pesan yang luar biasa, melebihi pesan-pesan yang lain seperti pesan antar, pesan tren, dan juga pe pesan kosong. Oke abaikan. Beginilah hasil renungan saya yang membuat air mata saya tidak menetes saat memikirkan lagu tersebut. Sebelumnya saya sertakan lirik lagunya dulu, kalau-kalau banyak yang lupa liriknya. Balonku ada lima rupa-rupa warnanya Hijau, kuning, kelabu, merah muda, dan biru Meletus balon h...
Di suatu hari tanpa sengaja kita bertemu Cuplikan lirik lagu Mas Anji di atas bisa sedikit menggambarkan bagaimana kami bisa bertemu. Pernah merasakan ingin memiliki namun tak pernah terjadi? Waduh... dalem banget ya. Dulu saya memiliki seekor kucing. Sebenarnya kucing tetangga sih, hanya saja saya tikung dan dia lebih memilih saya sebagai tuannya. Hahaha. Salah satu alasan saya suka memelihara kucing adalah dia bisa membawa saya ke keadaan rileks. Jadi, setiap ada masalah biasanya saya mengelus mesra badannya, memijat lembut kakinya, dan memperlakukan brutal seperti boneka. Hahaha. Duh kok malah sampai sini. Lanjut. Semenjak kepergian dia, saya tak punya kucing lagi. Ya iya lah. Yang patah tumbuh, yang hilang ketemu. Begitu kata pepatah. Pada tahun 2014 ketika alhamdulillah bapak, bibi, kakek, dan nenek pergi umroh, ada makhluk yang sepertinya mendatangi rumah saya untuk mengetes seberapa berimannya keluarga kami. Saat saya sedang memandang langit cerah sambil bergumul dengan...
Komentar
Posting Komentar