BERKADAL


Di tengah hiruk-pikuk arus mudik yang mengalir deras, KADAL yang merupakan singkatan dari Keluarga Dua Belas IPA Lima melakukan hal yang umum dilakukan ketika bulan Ramadan. Ya, buka bersama. Setahun tidak pernah bertatap muka menjadi motivasi tersendiri agar mengikuti buber anak-anak SMAN 1 Bantul tersebut, termasuk saya. Buber dilaksanakan pada tanggal 1 Juli 2016 di rumah salah satu penduduk desa Sribit, Bambanglipuro, Bantul, DIY. Namanya adalah Diga Budi Kurniawan. Ya karena acara ini bersifat kangen-kangenan dan tidak formal, setelah sampai lokasi kami langsung bercincong-cincong seperti setahun lamanya tidak bertemu, tanpa adanya pembukaan, sambutan, pembacaan undang-undang, amanat pembina buber, menyanyikan lagu wajib Indonesia Raya, dan sebagainya. 

Ada beberapa hal yang saya perhatikan di buber ini. Pertama, setelah semuanya duduk dengan rapi, saya amati satu per satu kawan-kawan saya. Hal apa yang mengejutkan? Semuanya memegang hp mereka masing-masing. Duh aduh, awalnya saya mengira suasana bakal senyap karena mereka main hp sendiri-sendiri. Alhamdulillah dugaan saya salah. Ternyata mereka tetap asyik mengobrol blablabla yeyeye sampai………2 jam lamanya. Hm… 

Hampir semuanya ngomong blablabla yeyeye, sebenarnya saya juga pengen ikut ngomong, tapi karena keadaan saya yang saat itu agak kurang enak, saya memilih diam dan memperhatikan cerita teman-teman saja. Nah, dari hasil memperhatikan tersebut, saya menemukan fakta berupa diagram ngobrol, yaitu kecenderungan seseorang mengobrol dengan siapa, dan hasilnya adalah sebagai berikut. 


diagram ini menggambarkan keadaan setelah sholat magrib. ada beberapa yang memang berpindah-pindah sih


Lingkaran berwarna kuning adalah saya, lokasi yang sangat strategis untuk  memperhatikan semua teman-teman saya. Panah di gambar menunjukkan komunikasi yang ‘sering’ terjadi, sering lho, berarti masih memungkinkan untuk berkomunikasi di luar panah itu.  Dalam ilmu bahasa, memang benar bahwa semakin dekat penutur dengan mitra tutur, maka akan semakin intim pembicaraannya. Saya melihat bahwa teman-teman saya ngobrol memang karena faktor jarak saja, bukan karena ada sesuatu. Dari hasil memperhatikan, saya bisa menangkap topik-topik apa saja yang mereka bahas, seperti kehidupan di kos, pengalaman praktikum, berbagi informasi, dan materi lainnya yang saya tidak bisa sebutkan satu per satu.

Anehnya, ketika saya mencoba ‘masuk’ dalam suatu obrolan, saya tidak bisa memperhatikan lagi apa yang dibicarakan teman-teman di blok yang lain. Berbeda ketika saya agak ‘keluar’, saya bisa agak mengetahui yang mereka bicarakan. Seorang teman saya berkata kepada saya, ‘mbok kamu ngomong, Lis.’ Jawaban saya hanya satu. Ketika saya ikut ngomong, saya mungkin terbawa asyik dengan satu kelompok pembicaraan dan tidak memperhatikan yang lain. Jika saya diam dan ‘keluar’, saya bisa memperhatikan wajah-wajah kegembiraan teman-teman yang saling melepas kangen. Dan itu yang membuat saya bahagia dan menjadikan buber ini lebih berarti. Kekeluargaan dapet, buka bersama dapet, lepas kangen juga dapet. Sukses deh BERKADAL tahun ini. 

Tokoh utama selalu di tengah ya, hahaha

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jangan Menilai Buku dari Penjualnya

ADA APA DENGAN LAGU 'BALONKU'?

Pertemuan Istimewa dengan Dia