Gawang Merah Gawang Putih
Siapa
sih tidak senang bisa menerbitkan buku sendiri? menerbitkan buku merupakan
impian semua orang, termasuk saya. Buku Gawang Merah Gawang Putih yang selanjutnya
akan saya sebut GMGP adalah buku pertama saya yang terbit secara indie. Namun
setelah menerbitkan buku tersebut, tidak ada rasa senang atau bangga dalam diri
saya. Kenapa? Karena alasan saya menerbitkan buku tiddak seperti yang
orang-orang biasanya. Ceritanya seperti ini.
Terakhir
kali saya potong rambut adalah saat UAS semester 1, yaitu akhir Desember 2014.
Setelah itu saya tidak pernah potong rambut lagi sampai bulan Mei. Alhasil
rambut saya pun sudah mulai gondrong. Orang tua saya yang kelihatannya sudah
risih menanyai saya kapan saya potong rambut. Saya menjawab saya cukur rambut
kalau sudah menerbitkan buku. Awalnya perkataan saya ini hanya sebatas candaan
saja, tetapi bisa juga ya ini jadi motivasi. Dan setelah itu saya melakukan
nazar bahwa tidak akan cukur rambut sebelum menerbitkan buku. Wesyeh, biar
keren pakai nazar segala. Tapi seorang lelaki harus menepati janjinya lho.
Awalnya
saya santai-santai saja karena dengan lebih lama menulis buku, lebih lama pula
rambut saya panjang. Keren kan ya punya rambut panjang? Sudah seperti sastrawan
atau musisi yang wakwaw banget. Namun tiba pada suatu masa, saya merasa risih
dengan rambut saya. Setiap naik motor, rambut saya nyolok mata. Setiap bangun
tidur, rambut saya seperti orang terdampar di pulau bertahun-tahun. Tambah
lagi, ternyata rambut saya kalau panjang jelek juga, meski wajah saya ganteng. Maka
memuncaklah rasa risih saya sehingga timbul keinginan untuk cukur rambut. Tapi saya
sudah bernazar kalau saya cukur rambut setelah saya menerbitkan buku. Jadi
diiringi rasa risih berambut gondrong, saya berusaha secepat mungkin
menyelesaikan buku saya. Karena alasan waktu, saya memilih menerbitkan buku
secara indie dan karena saya belum terlalu bisa membuat desain sampul dan
layout, saya menggunakan jasa penerbitan satu paket dengan ISBN, layout, dan
desain sampul. Saya tinggal mengirim naskah saja dan membayar jasa yang saat
itu seharga 250.000. Kalau gak salah segitu harganya. Oke demi cukur rambut
kenapa tidak?
Pertanyaannya,
mau bikin buku apa? kalau novel nanti lama, buku panduan ah sudah banyak. Oh
iya, saya ingat kalau saya pernah membuat cukup banyak tulisan di facebook.
Saya memutuskan untuk membuat kumpulan tulisan saya di facebook. Dalam waktu
satu minggu, naskah sudah saya rapikan dan siap dikirim penerbit.
Satu
bulan lamanya, akhirnya buku saya terbit. Mungkin saya orang pertama yang
menerbitkan buku bukan karena alasan ingin eksis, ingin dapat uang, atau ingin
pamer, namun hanya sekadar ingin cukur rambut. Itu saja. Gak lebih. Tapi respon
teman-teman saya yang tahu saya menerbitkan buku itu sepertinya berlebihan.
Yah, lumayan bikin teman bangga. Saya harap suatu saat nanti saya bisa
menerbitkan buku yang bukan hanya sekedar ngetrend, tapi juga memberikan
nilai-nilai baik, khususnya untuk generasi muda, generasi emas.
Teman-teman kalau mau
beli juga boleh kok. Hehehe. Tapi hanya dijual online karena sistemnya pay on
demand. Buka aja www.tinyurl.com/gawangmerah.
Makasih bye. 
ngirim naskah bukunya ke penerbit mana listya? ada niatan pengen ngirim buku aku juga...
BalasHapuspenerbit asrifa.
Hapus