Perjalanan Seorang Catlover
Masa lalu saya tidak terlalu
bersahabat dengan kucing. Betapa tidak, wajah saya yang tampan ini dulu pernah
mendapat delapan cakaran kucing (bukan cakaran delapan kucing ya) karena saya
pernah mencoba bersikeras memasukan kepala kucing ke dalam kantong plastik.
Waktu itu saya tidak mencakar balik kucing tersebut karena saya sadar kalau
selain tampan, saya juga bersalah.
1. Michael
Seiring berjalannya waktu, saya
menjadi bersahabat dengan kucing. Kucing peliharaan pertama saya bernama
Michael, nama yang cukup keren untuk seekor kucing kampung gratisan yang datang
entah dari mana. Dia datang ke rumah bapak saya (saya gak punya hak untuk
mengakuisisi rumah beliau) ketika saya sedang asyik menjemur baju tanpa goyang.
Karena iba, saya pun mengadopsinya meski hanya memberinya makan nasi dicampur
ikan asin.
Merawat Michael tidak terlalu
susah. Dia bukan tipe kucing yang menyerang meja makan dengan brutal, kencing
sembarangan, atau pup di segala tempat. Mungkin keanggotaannya yang masih 50:50
membuatnya ragu-ragu untuk melakukan kesalahan. Ya, ayah saya tidak terlalu
suka dengan kucing dan hampir selalu menendang kalau kucing berbuat salah,
bertolak belakang dengan saya. Jadi, jika dia berbuat salah, mungkin dia akan
diusir dan tidak dapat menyantap hidangan berupa nasi dicampur ikan asin lagi.
Satu perilaku baik yang saya
respek adalah Michael melakukan BAB pada tempatnya, yakni kloset kamar mandi.
Ya meski tidak tepat akurat ke dalam lubang perjalanan, setidaknya untuk
membuang kotorannya saya tinggal mengguyur air. Itu menjadi salah satu poin
penting bagi dia karena dengan perilakunya tersebut, ayah saya juga menaruh
respek.
Waktu berlalu, yang datang pasti
akan pergi. Demikian pula dengan Michael. Oktober 2016, ketika saya pulang dari
Kendari pada tugas negara, saya mendapat kabar tidak mengenakkan. Dengan wajah
tertunduk lesu, kakak saya mengatakan bahwa sudah tiga hari Michael tidak
pulang. Saya masih berharap bahwa berita itu bukan berita kematian, hanya saja
dia tidak kembali, sampai sekarang. Mungkin tugasnya di bumi sudah selesai dan
dia sudah kembali ke planet kucing untuk melaporkan hasil studi kasusnya di
rumah saya.
2. Amat
Waktu berlalu lagi. Yang datang
pasti akan pergi. Tapi yang pergi akan terganti dengan datang lagi. Kalau
sebelumnya kucing saya beri nama agak ke barat-baratan, kali ini saya mengusung
nama lokal, yakni Amat. Amat sebenarnya adalah kucing saudara saya, campuran
antara persia dan jawa. Motif marble yang dimilikinya membuat kucing ini
menjadi salah satu kucing yang langka. Saya mengadopsinya saat usianya 2 bulan.
Artinya, saya ada waktu untuk melakukan bonding.
Amat beruntung karena dia tidak
merasakan zaman susah ketika harus makan nasi dicampur ikan asin. Saya
memberinya catfood karena setelah membaca artikel perkucingan di internet,
kucing yang makannya nasi dicampur ikan asin bisa mengakibatkan bulu rontok.
Akhirnya, saya pun menyediakan Maxi, sebuah catfood kelas medioker karena saya
tidak mampu untuk memberikannya makan Whiskas atau Royal Canin. Itu akan
menjatuhkan harga diri si pemilik karena harga makanannya melampaui harga
makanan pemiliknya yang berupa telur goreng, tempe goreng, dan mi instan yang
membuatnya perlu proses.
Entah ada angin apa, ayah saya
tidak terlalu mempermasalahkan Amat seperti perlakuannya pada Michael. Satu
hipotesis saya adalah karena Amat cenderung memiliki bulu yang bagus dan
sifatnya yang kalem dan tidak terlalu berbuat onar. Waktunya ia habiskan dengan
tidur, makan, dan menjilati bulunya. Selain itu, dia juga memiliki skill
layaknya seekor anjing. Ketika gumpalan kertas dilemparkan jauh, dia akan
mengejarnya, dan membawanya kembali ke pelempar. Hal ini sempat menggegerkan
orang satu kampung. Ya gak satu kampung juga sih.
Lagi-lagi saya harus mengatakan
waktu berlalu, yang datang pasti akan pergi lagi. Bulan Ramadhan tahun 2018,
saya menjadi saksi atas matinya kucing tampan tersebut. Ketika sedang asyik
ibadah (tidur) maksudnya, ibu saya membangunkan dan melaporkan bahwa Amat
muntah dan mengeong kesakitan. Saya pun langsung membawanya ke saudara saya
(hak milik masih padanya). Tanpa berlama-lama, kami berdua langsung capcus ke
dokter hewan terdekat, dan sialnya dokternya sedang menjemput anaknya sekolah.
Suasana menjadi tegang plus
cemas. Amat terus mengeong kesakitan, dan semakin lama jantungnya semakin
kencang dan lidahnya mulai menjulur keluar. Perasaan saya sudah tidak enak dan
saudara saya mulai meneteskan air mata. Mungkin perasaan kami sama.
Dokter belum juga pulang. Tiba-tiba
Amat terdiam dan memejamkan mata. Tangisan saudara saya menjadi-jadi, belum
ikhlas untuk kehilangan. Saya mencoba membaca doa, berharap Tuhan masih
memberikan keajaiban sambil terus mengelus-elus kepalanya dan menaruhnya di
pangkuan saya. Tiba-tiba lagi mata Amat terbuka dan jantungnya kembali berdegup
kencang, namun meongannya tidak keluar. Yang saya lihat hanya matanya yang
melotot dengan lidah yang terus menjulur.
Akhirnya dokter datang. Dengan
segera beliau menyuntikkan anti-racun dan menyemprotkan minyak goreng ke mulutnya.
Saya dan saudara saya tidak tega melihat wajahnya yang bisa dikatakan sedang
dalam fase sakaratul maut. Saya sendiri mencoba untuk mengikhlaskannya. Amat
terus-terusan ngos-ngosan. Matanya masih melotot.
Mungkin saudara saya sudah ikhlas
akan kepergiannya sehingga Amat pun memejamkan mata. Kepergiannya diiringi
tetesan air mata saudara saya dan diikuti kepergian kami dari tempat dokter
hewan yang tidak mau dibayar karena tidak bisa menyelamatkan Amat.
3. Cici
Rumah saya menjadi sepi tanpa
kucing di dalamnya. Sudah tiga bulan dan saya masih belum bisa move on dari
Amat karena sudah bersama hampir satu tahun. Untuk mengobati rasa gelisah, saya
berdiskusi dengan Ibu, Bapak, dan Kakak saya memutuskan untuk mengadopsi kucing
lagi. Saya memilih untuk membeli kucing yang agak murah dan sekiranya
pemiliknya tidak punya kemauan untuk merawatnya.
Saya pun mendapatkan Cici, seekor
kucing campuran Persia shorthair dan Jawa dengan motif marble seperti Amat
(efek tidak bisa move on).
Bersambung ya… capek nulisnya.
Komentar
Posting Komentar