Belajar atau Menjadi
Bulan Desember, bagi sebagian
orang mungkin hanyalah bulan biasa. Tapi bagi saya, bulan itu adalah bulan yang
merubah segalanya, eh salah, mengubah maksudnya. Saya memiliki sebuah
pertanyaan, bagaimana jika orang baru pertama kali memarkir mobil secara parallel,
lalu dia nyenggol mobil lain?
Pertanyaan itu sampai saat ini saya jadikan perisai untuk setiap
tuduhan-tuduhan yang ditujukan kepada saya. Namun, layaknya segala yang ada di
dunia ini, tak ada yang abadi, segalanya bisa rusak. Begitu juga perisai itu.
Hal
itulah yang terjadi kepada saya, tepatnya saat saya terpilih menjadi ‘ketua’
KMSI. Bagaimana saya tidak kaget, saat SD aktivitas saya hanya bermain,
belajar, serta patuh kepada orang tua dan guru. Saat SMP, saya hanya siswa
biasa, tidak ikut OSIS-OSIS-an, ekskul-ekskul-an, apalagi pacar-pacaran. Saat
SMA, kehidupan saya tidak begitu jauh berbeda. Bedanya, saat SMA saya ikut
ekskul-ekskulan, qiro’ah. Tapi tetap saja, saya tidak ikut OSIS-OSIS-an dan
hidup sebagai siswa yang pergi pagi pulang siang, meski kadang-kadang pulang
sore, berbeda dengan teman-teman lain yang pulang malam karena banyak rapat
organisasi. Masa kuliah saya pun juga tidak jauh beda, saya hanya seorang
mahasiswa kupu-kupu yang sering tidur di maskam jika ada jeda kuliah yang cukup
panjang.
Setelah
mengetahui latar belakang keorganisasian saya yang benar-benar nol tersebut,
saya pikir teman-teman bisa membayangkan betapa kagetnya ketika saya terpilih
menjadi ketua sebuah organisasi. Meski semangat, namun semangat tersebut
ternyata tidak bisa membuat saya langsung seratus persen tahu tentang
keorganisasian. Bahkan setelah momen pemilihan tersebut, kepala saya terus
terisi pertanyaan ‘Apa yang harus saya lakukan?’
Hasilnya
bisa ditebak, jawabannya seperti pertanyaan bagaimana orang yang pertama kali
memanjat pohon melakukannya. Jatuh, iya. Terseok-seok, iya. Sakit, iya. Penuh
hujatan, ya iya juga sih. Saya ingat sebuah pepatah atau apalah itu, lihatlah
sesuatu dari berbagai sudut. Yang perlu disadari adalah ternyata kita juga
termasuk sesuatu itu. Kita dilihat dari berbagai macam sudut pandang, dan
itulah yang saya alami selama satu tahun ini. Saya disebut sebagai titik
kehancuran KMSI, gak tanggung jawab, gak bisa merangkul anggotanya, disetir
seperti mobil kodok tahun 60-an, ganteng, aneh, dan lain-lain. Tapi itu
pandangan orang-orang lewat sudut pandang tertentu dan jika itu yang mereka
lihat, saya tidak bisa melakukan apa-apa.
Dipikir
lebih jauh, memang benar sih apa kata orang tentang saya, terutama yang
ganteng, saya kurang berkompeten dalam mengurus sebuah organisasi yang
diembel-embeli ‘menjadi seorang kepala keluarga’. Saya tergopoh-gopoh bingung
apa yang seharusnya saya lakukan. Seperti ying-yang, hidup ini harus penuh
keseimbangan. Ada jahat, ada baik. Ada yang melimpah, ada yang terkuras. Ada
saya, orang yang pemalas, ada orang yang rajin dan ulet. Siapa dia? Dia adalah
salah satu keberuntungan yang saya dapat selama saya menjadi ketua, yakni sekretaris
jendral yang sangat sangat sangat tangguh, ulet, pekerja keras, dan selalu ngoyak-ngoyak saya untuk mikir. Roda-roda
aktivitas KMSI dialah yang mengaturnya, mulai dari pembuatan RKAT, proposal
kegiatan, LPJ, dan persiapan musyawarah besar yang terjadi pada saat ini. Kehadirannya
seperti tanpa arti, tapi kepergiannya begitu melukai. Begitulah kata Pak Putu
Wijaya. Namun untuk orang yang satu itu, kehadirannya sangat berarti,
kepergiannya begitu ngrepoti. Saya sangat berhutang budi kepadanya hingga saat
dia merusak kabel data saya, melukai cincin magnet saya, dan menghilangkan map
berisi sertifikat-sertifikat, KRS, dan berkas-berkas lainnya, rasa marah dan
benci tak bisa keluar dari diri saya. Luar biasa.
Seseorang
belajar mengendarai mobil, lalu ia menabarak pohon. Orang berkata ‘oh, dia
masih belajar’. Seorang pengemudi ber-SIM A mengendarai mobil dan menabrak
pohon, orang berkata ‘dia mabok, gak hati-hati, SIM-nya palsu’, dan lain-lain.
Memang benar, jika kita belajar, kita akan dimaklumi. Jika kita menjadi, kita
akan dibebani. Saya yang kini berstatus ketua KMSI yang hampir lengser, tidak
tahu apakah saya belajar atau menjadi. Saya dimaklumi. Saya juga dibebani. Yang jelas, saat itu, dan
saat ini, saya menjadi seorang pembelajar, yang dibebani untuk selalu belajar,
dan terus belajar. Namanya juga hidup, kalau gak belajar ya gak tambah pintar.
Semoga siapapun yang akan menjadi ketua KMSI dapat melakukan tugasnya dengan
baik. Doa klasik seorang pejabat yang hampir lengser.
Sekian
kata-kata dari saya. Banyak salah dan kurang, ya memang. Manusia memang selalu
merasa kurang. Kurang bersyukur atas apa yang ada, kurang ajar kepada orang
lain, kurang tidur karena kebanyakan mikir, dan kurang-kurang yang lain. Kurang
lebih seperti itu. Terima. Eh ada yang kurang. Terima kasih. Hormat saya,
Listya Adinugroho.
Komentar
Posting Komentar