Tutup Auratmu, Sayangi Orang Tuamu

Aurat merupakan bagian tubuh manusia yang dilarang keras untuk dilihat, apalagi disentuh. Bisa dikatakan, aurat merupakan bagian suci dari seorang manusia. Bisa dibayangkan bukan, bagaimana jika bagian suci sesuatu sudah tidak suci lagi? Tentu nilai sesuatu tersebut sudah tidak lagi tinggi. Itulah salah satu perumpamaan tentang aurat.

Allah menciptakan manusia menjadi dua jenis, yakni laki-laki dan perempuan, dengan karakter dasar yang berbeda, dengan hakekat hidup yang berbeda, dan aurat yang berbeda pula. Untuk laki-laki, aurat atau bagian yang harus dijaga adalah bagian pusar sampai lutut, sedangkan untuk wanita adalah seluruh anggota tubuh kecuali muka dan telapak tangan.

Beratnya Menjadi Seorang Wanita

Mungkin bagi Anda para lelaki, aurat ini tidak begitu masalah karena bagiannya hanya sepertiga tubuh saja. Yang menjadi masalah adalah bagi para wanita. Menjaga bagian suci seluruh anggota tubuh adalah tugas yang amat berat. Itulah kenapa menjadi wanita yang mampu menjaga aurat adalah berat. Memang ada yang mampu menutup aurat tersebut, namun di waktu lain ketika iman sedang lemah, mereka tidak sanggup mengontrol dan terpaksa melepas jilbab atau memakai pakaian yang tidak menutup aurat seperti kaos pendek dan celana pendek.

Kenapa Harus Menutup Aurat?

Bagi Anda para lelaki, Anda mungkin tidak terlalu perlu membaca ini. Akan tetapi, jika Anda tetap membaca ini, hal baik yang Anda dapatkan adalah dapat memahami betapa beratnya menjadi seorang wanita yang harus melindungi segenap tubuhnya. 

Ketika wanita yang maaf, belum menutup aurat secara sempurna, entah itu masih memperlihatkan tangan atau rambut mereka, tidak sedikit yang menjawab, “Saya belum siap. Saya masih menyempurnakan iman dulu.” atau “Percuma kalau berjilbab tapi tingkahnya tidak baik.” Memang itu benar, namun sebenarnya hal itu kurang tepat.

Menutup aurat bukan tentang siap atau belum siap. Bertingkah baik atau bertingkah buruk. Menutup aurat adalah tentang melindungi diri sendiri dan juga keluarga. Ada beberapa alasan kenapa menutup aurat harus dilakukan, harus benar-benar dilakukan, dan harus benar-benar dilakukan segera. Saat ini juga.

1. Menjaga keluarga, khususnya orang tua

Ada sebuah hadis yang mengatakan bahwa jika seorang ayah tidak mampu menjaga anaknya dalam menutup aurat, maka ia akan terseret ke neraka. Dari kasus tersebut, sudah jelas bahwa jika seorang wanita tidak mampu menjaga auratnya, ia secara tidak langsung akan menyengsarakan ayahnya masuk ke neraka. Padahal, ayah adalah sosok yang selalu berjuang mencari nafkah dan menghidupi keluarga, dan tak jarang mengorbankan nyawanya. Apakah pantas pengorbanan seperti itu dibalas dengan menjebloskan ke neraka? Tidak perlu dijawab, hanya perlu dihayati saja.

2. Melindungi diri

Ada beberapa perumpamaan mengenai seorang wanita yang menutup aurat dan tidak menutup aurat. Perumpamaan yang paling sering ditemui adalah perumpamaan permen yang dibungkus dan tidak. Permen yang tidak dibungkus, lama kelamaan akan ditempeli dengan debu dan menjadi kotor. Bukan hanya itu, permen yang tidak dibungkus jika tidak sengaja terjatuh ke gundukan pasir atau tanah, maka permen itu langsung menjadi kotor dan orang tidak sudi untuk memilikinya lagi. Permen yang tidak dibungkus juga lama kelamaan akan dikerubungi semut dan lalat yang dapat menyebarkan penyakit.

Berbeda dengan permen yang dibungkus dengan plastik. Jatuh di gundukan pasir pun, permen di dalamnya akan tetap bersih. Semut dan lalat tidak akan mengerubunginya. Demikian halnya dengan seorang wanita yang selalu menjaga auratnya. Dia tidak akan terpengaruh oleh hal-hal buruk di sekitarnya. Dia akan menjadi sesuatu yang suci, bernilai, dan bermartabat tinggi. 

Ada pula yang berpendapat bahwa seorang wanita yang memamerkan auratnya seperti secara tidak langsung mengatakan kepada orang lain “Nikmatilah aku!” sedangkan wanita yang menutup auratnya seakan-akan mengatakan “Hormatilah aku!” tentu ini menjadi bermartabat.

3. Melindungi orang lain

Mungkin jika seorang wanita tidak menutup aurat mereka, hal itu akan membuat seorang lelaki tergugah syahwatnya dan membuat lelaki tersebut melakukan perbuatan tercela seperti masturbasi hingga pelecehan seksual. Jika hal itu terjadi, maka sang wanita memiliki andil akan perbuatan tersebut dan ia akan ikut menanggung dosanya. Jadi, dengan menutup aurat, selain melindungi diri, mereka juga melindungi orang lain.

Sudah Siapkah Mulai Detik Ini? 

Manfaat menutup aurat dan risiko mengumbar aurat sudah dipahami. Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah kita sudah siap melakukannya? Jika motivasi melindungi diri dan melindungi orang lain tidak terlalu menggetarkan hati, coba renungkan mengenai orang tua kita. Mereka sudah mengorbankan segalanya untuk membesarkan anaknya menjadi seorang wanita yang terhormat.

Ibu mengandung 9 bulan, beraktivitas dengan penuh beban. Terkadang setiap malam selalu mual dan tetap bertahan demi keselamatan anaknya. Ia berdoa sepanjang hari sambil berharap anaknya kelak menjadi seorang yang berguna dan sukses. Setelah 9 bulan, ia melahirkan dengan rasa sakit yang amat sangat. Sedikit saja menyerah, anaknya tidak akan lahir dengan selamat. Maka ia mengerahkan seluruhnya, termasuk nyawa, untuk melahirkan anak yang diharapkannya menjadi seseorang berakhlak mulia. Apakah perjuangannya akan dikecewakan dengan perilaku mengumbar aurat? Bayangkan tetes air matanya.

Sementara ibu merasakan seluruh rasa sakit, ayah tak henti-hentinya memeras keringat, membanting tulang, hanya untuk satu tujuan, istri dan anaknya kelak lahir dengan sehat dan selamat serta menjadi orang sukses, tanpa memikirkan dirinya sendiri keringatnya sudah mulai habis, badannya mulai rapuh, napasnya mulai sengal. Sungguh sebuah kejahatan besar jika pengorbanan tersebut dibayar dengan menjebloskannya ke neraka hanya karena sang anak tidak menutup auratnya.

Jadi, tanpa harus memikirkan akhlak sudah baik atau belum, siap atau tidak siap, tutuplah aurat mulai dari sekarang, dengan semaksimal mungkin. Lakukanlah ini semata-mata untuk membalas kebaikan dan pengorbanan orang tua. Buatlah mereka tersenyum kecil, sebelum ia benar-benar tidak bisa tersenyum lagi untuk selamanya. Tutuplah auratmu, bawa orang tuamu ke surga bersama akhlak baikmu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jangan Menilai Buku dari Penjualnya

ADA APA DENGAN LAGU 'BALONKU'?

BERKADAL