Belajar dari Belajar

Menyikapi sifat dasar manusia yang tidak pernah merasa puas, dalam bahasa pun demikian. Maka dari itu, lahirlah istilah imbuhan dengan masih dipertanyakan siapa ibunya, siapa suaminya, dan apakah suaminya ketutupan logo stasiun tv swasta atau tidak.

Sering kita dengar berbagai kalimat-kalimat bijak menggunakan kata belajar. Belajarlah selama 9 tahun. Belajarlah dari pengalaman. Belajar tidak mengenal usia. Namun, tahukah Anda bahwa belajar juga bisa dari kata belajar itu sendiri? Cie sendiri. Saya juga lho. Mau?

Tidak percaya? Bagus, jangan mudah percaya.  Apalagi sekarang sedang maraknya kasus hoax. Begini nih.

1. Ceritanya imbuhan ber- itu memiliki 3 kagebunshin, yakni be-, ber-, dan bel-. Mereka bertiga anak yang baik, tidak suka mencuri timun, apalagi timun miliknya sendiri. Si be- ini memiliki beberapa  pasangan, yaitu kata yang huruf kedua dan ketiganya adalah e dan r, seperti ternak atau kerja. Permen tidak termasuk ya. Aneh memang bahasa ini. Lha, si ber- ini nih yang playboy banget suka ganti-ganti pasangan. Hampir semua kata kerja, ada kata benda juga sih, mau sama si ber- ini, entah dia pakai jaran goyang atau jaran panas, mulai dari korban, main, tanya, dan lainnya yang masih dalam satu geng ataupun tidak.

Nah, ini nih yang spesial. Si bel- ini hanya setia pada satu kata saja, yakni ajar. Kak, tapi belagu itu gimana? Belagu itu bukan dari gabungan si kagebunshin ber- sama lagu ya. Belagu itu satu kata, Gan. Kalau yang dari kata lagu itu berlagu. Dari hal ini kita bisa belajar dari belajar tentang apa itu kesetiaan. cie...

2. Kata belajar sering sekali kita dengar, bahkan sering muncul dalam kumpulan kata-kata bijak bahasa Indonesia. Namun, ada satu ironi di sini. Eh ya gak di sini banget sih. Agak ke sana dikit. Belajar sering disebut-sebut dan digunakan dalam tuturan manusia, namun dia tidaklah diperhatikan. Masih dipertanyakan kenapa orang-orang zaman old menggunakan belajar, namun tak ada penjelasan kenapa muncul l dan hanya memiliki pasangan ajar saja. Memang kata orang bahasa itu arbitrer atau manasuka, tapi orang mana coba yang suka kalau sering disebut namun tidak diperhatikan? Dari sini kita belajar keikhlasan dari belajar. Uh...

3. Ada orang yang menanyakan, yaitu saya, kenapa si ajar ini gak pacaran sama si ber- atau be- aja? (cie b aja). Mungkin jika si ajar ini jadian sama ber- akan menghasilkan berajar dan itu sangat tidak tongue friendly banget bagi orang yang maaf, cadel (tanpa Temon), karena ada dua huruf r di sini. Kita tahu, eh kalian tahu, soalnya saya gak tahu, kalau untuk menghasilkan bunyi r kita harus menggetarkan lidah kita di langit-langit atas mulut kita, dan tidak semua orang bisa melakukannya. Maka  dari itu, si ajar lebih memilih bel- untuk menghargai orang yang maaf, cadel (gak nyanyi someone like you).

Tapi kok gak belajal saja? Bukankah belajar masih ada r nya? Eits, fokus kita ini adalah di bel- nya ya, bukan si ajar. Ajar hanya koas saja di sini. Jangan suka mengalihkan isu pembicaraan karena dalam isu ada "jealous, im overzealous".

Lalu kenapa si ajar gak pdkt sama be-? Secara fengshui tidak serius, huruf e dan a jika bertemu akan menimbulkan kesan alay. Iya kan? Ea.... Padahal belajar itu harus serius dan tidak boleh alay. Dari hal singkat ini, kita belajar dari belajar tentang tidak boleh kita menyulitkan orang lain. Wesyeh.

4. Sekarang kita persilakan si ajar untuk minggir sejenak dan kita fokus pada si trio kagebunshin, yaitu be-, ber-, dan bel-. Saya beri waktu 10 detik untuk melihat ketiga saudara itu. 

Sudah? Apakah anda melihat hal unik dari bel-? Ya, dari ketiga tersebut, bel- adalah satu-satunya yang memiliki makna utuh dan layak diberi julukan kata. Dalam KBBI, bel memiliki arti alat yang dapat mengeluarkan bunyi dering karena bagiannya dapat digerakkan oleh listrik atau udara. Bahkan ada arti lagi yakni satuan perbandingan daya dalam skala logaritma berbasis sepuluh, biasa digunakan dalam suara. Keren kan? Dari sini kita belajar bahwa kita tidak boleh bergantung pada orang lain. Kita harus punya pendirian dan mandiri meskipun masih ada banyak bank swasta. Apasih.

Demikian tulisan berfaedah (ini pakai ber-) ini. Memang benar (ini bukan be- ya...) kata orang bijak, belajar bisa dari mana saja, dari siapa saja, bahkan dari kata belajar itu sendiri. Cie sendiri. Saya juga lho. Mau?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jangan Menilai Buku dari Penjualnya

ADA APA DENGAN LAGU 'BALONKU'?

Pertemuan Istimewa dengan Dia