TALKSHOW KOPLOW episode Jomblo Muda Berbakat
PROFIL
Nama : Karyudin Jompi Bialo (Karyudin
Jomblo)
Tempat,
tanggal lahir : Lahir di Kesendirian,
4 Februari 1987
Prestasi :
-Pemenang “Jomblo
Award” kategori jomblo muda berbakat selama 3 tahun berturut-turut
-Juara 1 lomba jomblo menyaksikan 100 pasangan
yang sedang pacaran
Abang Goda
Selamat
pagi Mas Karyudin!
Mas Kar
Selamat
pagi juga, Mas Goda.
Abang Goda
Maaf,
panggil saja Abang Goda. Soalnya saya lebih ke tipe abang-abang daripada
mas-mas. Hehe.
Mas Kar
Haha.
Oke. Selamat pagi, Abang Goda.
Abang Goda
Oke.
Mas Kar, pertanyaan pembuka nih, Mas sudah tiga kali berturut-turut memenangkan
“Jomblo Anniversary Award”, apa benar begitu? Dan bagaimana ceritanya?
Mas Kar
Iya,
benar sekali. Awalnya saya hanya hidup layaknya seorang jomblo pada umumnya.
Kalau malam Minggu nangis di kamar sambil berdoa biar turun hujan deras, kalau
perlu sekalian ada petir atau badai gedhe. Kadang ngomong sendiri sama cermin
sambil berkata “Kamu itu ganteng, tinggi, keren. Cuma kurangnya satu. Gak punya
pendamping,” terus nangis di depan cermin. Dan masih banyak perilaku-perilaku
jomblo yang saya kira hampir semua jomblo juga sama. Baper gitu bahasanya.
Spion motor senggolan sama spion mbak-mbak aja baper. Ya gitu lah.
Nah, soal pemenang nominasi itu, dulu ceritanya saya lagi pergi ke mall untuk beli sabun sama tisu. Waktu itu memang sabun mandi di rumah saya sudah habis dan keluarga saya sudah terbiasa menggunakan tisu sesudah makan. Baru mau masuk ke mall, HP saya berbunyi. Ternyata ada telepon dari seseorang, hal yang sangat jarang terjadi kecuali saat sedang terlilit hutang. Saya ditelepon pihak panitia Jomblo Anniversary Award untuk masuk ke dalam kategori jomblo muda berbakat. Kata pertama dan kedua bisa saya terima mengingat saya memang jomblo dan usia saya masih tergolong muda. Tapi yang mengganjal adalah munculnya kata berbakat. Setahu saya, saya gak punya bakat apa-apa. Tapi saya terima saja lah.
Nah, soal pemenang nominasi itu, dulu ceritanya saya lagi pergi ke mall untuk beli sabun sama tisu. Waktu itu memang sabun mandi di rumah saya sudah habis dan keluarga saya sudah terbiasa menggunakan tisu sesudah makan. Baru mau masuk ke mall, HP saya berbunyi. Ternyata ada telepon dari seseorang, hal yang sangat jarang terjadi kecuali saat sedang terlilit hutang. Saya ditelepon pihak panitia Jomblo Anniversary Award untuk masuk ke dalam kategori jomblo muda berbakat. Kata pertama dan kedua bisa saya terima mengingat saya memang jomblo dan usia saya masih tergolong muda. Tapi yang mengganjal adalah munculnya kata berbakat. Setahu saya, saya gak punya bakat apa-apa. Tapi saya terima saja lah.
Setelah itu, pas acara puncaknya
saya diundang ke sana dan saya dinyatakan sebagai pemenang nominasi jomblo muda
berbakat dengan 45.498 suara. Saat itu juga saya mendapat sebuah piala dan uang
tunai sebesar Rp 30.000.000,00. Ya lumayan lah.
Dari situ saya berpikir bahwa jomblo gak selamanya buruk. Buktinya saya
sendiri. Mulai saat itu saya terus menikmati kehidupan jomblo saya dan hasilnya
tahun berikutnya saya menang lagi dengan hadiah yang sama. Begitu juga dengan
tahun berikutnya. Saya rasa pertanyaan apa bakat saya sudah terjawab, yakni berbakat menjadi
jomblo.
Abang Goda
Wow.
Super sekali kisahnya. Jadi sebenarnya jomblo itu bukanlah kekurangan, bukan
begitu?
Mas Kar
Betul
sekali, Bang. Pada masa sekarang, khususnya para remaja, merasa malu jika
status mereka jomblo. Padahal seperti yang saya katakan tadi, jomblo tidak
selamanya buruk. Yang membuat jomblo dicap buruk adalah persepsi masyarakat
yang sudah dibentuk oleh mereka sendiri. Sekarang coba kita melakukan survey
dengan mengambil 100 sampel orang jomblo dan 100 sampel orang yang tidak
jomblo. Kemudian kita tanya apa kebolehan mereka, apa bakat mereka, apa
prestasi mereka. Saya yakin yang gak jomblo pasti lebih sukses. Hahaha. Enggak-enggak.
Bercanda. Saya yakin yang jomblo tidak kalah prestasinya.
Abang Goda
Luar
biasa sekali. Pertanyaan selanjutnya nih, Mas. Ada tips gak nih untuk para
jomblo-jomblo muda agar mereka tidak merasa minder karena kejombloan mereka?
Mas Kar
Oh
tentu ada. Pertama, jadikan jomblo itu pilihan hidup. Setiap keputusan pasti
ada baik dan buruknya. Nah, carilah kebaikan-kebaikan menjadi seorang jomblo
dan fokuslah pada kelebihannya. Awal karir saya sebagai seorang jomblo dulu
memang sangat sulit. Waktu itu saya masih SMP. Hampir seluruh laki-laki di
sekolah saya sudah berpacaran. Saya pun masuk dalam kelompok minoritas. Mau
ngajak temen nonton, eh dia sudah sama pacarnya. Mau ngajak temen ke kantin, eh
dia sudah sama pasangannya. Mau ngajak ngerjain tugas kelompok, eh dia sudah
sama suaminya. Sulit memang.
Setiap
ada event di sekolah, banyak yang duduk bersama pacarnya, dan saya pun hanya
duduk sendiri, walau terkadang tetap menggerombol bersama teman-teman. Tapi ya
teman yang sesama jomblo sih.
Masuk
ke SMA pun juga demikian. Nah, saat itu merupakan titik balik kehidupan saya.
Saya melihat sepasang kekasih yang sedang putus dan pihak wanitanya stres lalu
bunuh diri. Saya berpikir, “Lah, pacaran kok gini amat ya. Sampai bisa bikin
mati orang.” Setelah peristiwa itu saya semakin sering melihat dampak-dampak
negatif dari pacaran, mulai dari rusaknya hubungan, teror sms, dompet kering, jadi alay, jadi menye, dan
efek-efek lainnya. Saya pun memutuskan untuk memilih jomblo dan mencari
kegiatan yang bermanfaat. Sampai saat ini, saya merasa bahwa saya bukan tipe
jomblo ngenes lagi, tapi sudah naik level menjadi jomblo yang high quality.
Saya
mulai mempelajari hal-hal baru yang saya sukai. Sampai saat ini saya sudah
menguasai 4 macam bahasa, skill memasak, fingerboard, skateboard, whiteboard,
pen spinning, mind spinning, yoyo, main rubik, parkour, dan masih banyak lagi.
Ya hal sederhana tapi menyenangkan itu saya pelajari untuk membahagiakan tubuh
ini. Kan tubuh ini juga perlu dibahagiain kan ya?
Abang Goda
Wesyeh…
luar biasa. Benar sekali itu. Ngomong-ngomong, Mas Kar pernah terjebak dalam friend zone, benar begitu?
Mas Kar
Ya
dibilang terjebak sih enggak ya. Sebenarnya saya sendiri yang menginginkan friend zone. Kan biasanya laki-laki pada
umumnya kalau nembak cewek gini ya, “Kamu mau nggak jadi pacar aku?” dan kalau
si cewek menolak dia akan berkata, “Maaf kita temenan aja ya.” Nah kalau saya
beda, kalau ada cewek yang saya sukai, saya akan ngomong, “Eh, X, kamu tuh
cantik. Aku suka sama kamu. Kamu mau nggak jadi temen aku?” Jadi seolah-olah
saya derajatnya lebih tinggi gitu. Kalau lagi beruntung ya ceweknya jawab
“Kenapa gak pacaran aja?” Itu godaan terbesar saya. Dan sayangnya saya belum
pernah mendapat jawaban seperti itu. Hahaha.
Abang Goda
Hahaha.
Jadi semacam ilusi pikiran gitu ya, biar nggak kelihatan rendah. Boleh, boleh,
sahabat pembaca bisa juga nih mempraktikkan jurusnya Mas Kar. Siapa tahu
beruntung. Hehe.
Abang Goda
Pertanyaan
terakhir nih, Mas. Mas Kar katanya pernah menjuarai lomba menonton 100 orang
berpacaran. Bisa dijelaskan mas acara apa itu?
Mas Kar
Oh
itu. Waktu itu saya sedang asik main HP tiba-tiba ada yang ngeshare info lomba
menonton 100 orang pacaran. Hadiahnya tidak main main, 15 juta. Lha saya coba
ikut saja. Kebetulan syaratnya hanya membawa fotokopi KTP/Kartu Pelajar dan
Surat Keterangan Jomblo 17 Tahun. Waktu hari H saya datang ke lokasi, peserta
dimasukkan ke dalam sebuah aula berisikan 100 pasangan orang pacaran yang
sedang bermesraan, mulai dari pegangan tangan, suap-suapan, ayah bundaan,
peluk-pelukan, dan yah seperti kita tahu bagaimana layaknya yang dilakukan
orang pacaran. Awalnya saya kira ini akan jadi hal yang mudah, baru sepuluh
menit dari enam puluh menit waktu yang disediakan, mata dan telinga saya sudah
mulai perih. Menyebalkannya, lama lama perih itu merambah ke pikiran dan
perasaan. Wah, kalau Abang pengen tahu rasanya, itu lebih parah dari kita
diikat, disayati pisau kecil-kecil, terus dikasih garam, lalu diikat di atas
pohon cemara, terus pohon cemaranya ditebang. Kesakitan itu tidak akan pernah
saya lupakan.
Abang Goda
Lalu,
bagaimana Mas Kar bisa melalui semua itu?
Mas Kar
Saya
menyatu dengan alam. Di saat saya sedang di puncak-puncaknya rasa kesakitan
itu, saya memejamkan mata dan membayangkan ada titik putih di antara kedua mata
saya. Saya menarik nafas panjang-panjang, menyimpannya ke dalam dada, lalu
menurunkan ke perut, membayangkan udara berputar membentuk bola di dalam perut,
dan saya keluarkan perlahan-lahan. Setelah sekitar sepuluh kali melakukan itu,
saya langsung membuka mata.
Abang Goda
Langsung
sakitnya hilang, Mas?
Mas Kar
Tambah
parah, Bang. Waduh. Pas saya membuka mata, ternyata pasangan pasangan itu malah
menjadi semakin mesra. Dan mulai ada celetukan “gak laku!”, “payah!”, dan
hinaan-hinaan lain yang ditujukan kepada orang jomblo.
Abang Goda
Lalu
apakah mas menyerah?
Mas Kar
Tentu
tidak, saya tidak akan pernah menyerah. Yang harus saya lakukan saat itu adalah
memikirkan motivasi kuat agar saya harus memenangi lomba itu. Lalu saya
memikirkan uang 15 juta. Saya memikirkan apa saja yang bisa saya lakukan dengan
uang 15 juta. Saya bisa membeli motor Mario, Ephone 5, laptop ASAS, paket data
IM33, nasi telur 2142 porsi, es teh 7500 gelas, gorengan 30.000 buah, dan ...
Abang Goda
Dan?
Mas Kar
Dan
ketika saya sedang sibuk menghitung itu, terdengar bel yang ternyata tanda satu
jam sudah terlewati. Saya keluar dari ruangan disambut oleh tepuk tangan
ratusan orang. Saya bingung, tapi mungkin lebih bingung para penonton kenapa
saya bisa menang.
Abang Goda
Wah
luar biasa sekali. Pertanyaan terakhir nih, Mas. Apa Mas Kar pengen punya
pendamping?
Mas Kar
*Tersenyum
manis ke arah Abang Goda
Komentar
Posting Komentar