Berlayar Bersama KMSI UGM Kabinet Layar Terkembang



Maka dari itu, saya namakan kabinet kepengurusan KMSI periode 2016 dengan nama Kabinet Layar Terkembang
Dinilai meredup oleh sebagian orang, KMSI (Keluarga Mahasiswa Sastra Indonesia) kini perlahan mulai naik ke permukaan. Semangat untuk membawa nama Sastra Indonesia ke seluruh Indonesia nampaknya bukan hanya bualan ketua KMSI semata. Mimpi yang sangat besar itu melecut semangat untuk mencoba memberikan yang terbaik untuk Sastra Indonesia. 
Muhammad Lutfi Dwi Kurniawan, yang tergabung dalam teater Saksimata, adalah seorang mahasiswa Sastra Indonesia angkatan 2014. Dia berhasil membawa nama Sastra Indonesia ke tingkat yang lebih tinggi setelah memenangkan lomba monolog nasional di Solo. Teater Saksimata yang ia gabungi itu juga terdiri atas mahasiswa Sastra Indonesia, beranggotakan Lutfi, Listya Adinugroho, Anta Wisnu Nugraha, Dwi Okkyawan, Ahmad Romadhon, Yosef Astono, dan Aditya Wicaksono. Teater yang baru dibentuk pada November 2015 itu mulai naik namanya. 
Ramu Rima, sebuah grup musikalisasi puisi yang juga beranggotakan mahasiswa Sastra Indonesia juga mulai mencuat namanya. Terakhir kali Ramu Rima pentas adalah saat acara Dies Natalies FIB UGM di GSP pada Februari 2016. Honor yang diterima pun lumayan besar, membuktikan bahwa kualitas Ramu Rima juga semakin menjanjikan.
Baru tiga bulan terbentuk, KMSI sudah mulai mendekati mimpinya membawa nama Sastra Indonesia ke seluruh Indonesia. Selain di bidang seni, KMSI juga mulai menaikkan lagi kekuatan di bidang olahraga, dibuktikan dengan dirutinkannya latihan olahraga setiap minggu yang membuat armada Sastra Indonesia siap bertempur di lapangan olahraga. 
Dalam bidang akademik KMSI pun tidak mau kalah dengan jurusan lain. Acara diskusi bahasa dan sastra pun diadakan setiap bulan untuk mewadahi mahasiswa yang ingin menambah ilmu pengetahuan tentang bahasa dan sastra. Tanggal 24 Maret 2016 adalah diskusi pertama yang diadakan KMSI departemen Riset dan Akademik dengan bahasan “Intervensi Pemerintah dalam Karya Sastra” dipimpin oleh Fitriawan Nur Indrianto, alumnus  Sastra Indonesia UGM.
Saat ini, KMSI sedang menggarap proyek besar. Sebuah proyek yang menjadi senjata ampuh KMSI dalam mengenalkan Sastra Indonesia ke seluruh Indonesia dengan event akbarnya Festival Sastra dan Bulan Bahasa. Terdengar kabar bahwa Festival Sastra tahun ini akan berlangsung sangat megah dan Bulan Bahasa akan terselenggara secara berbeda dan luar biasa. 
Memang terlalu dini untuk mengatakan apakah KMSI kabinet Layar Terkembang akan mengalami kemajuan dari kepengurusan tahun lalu atau malah mengalami kemunduran. Yang jelas, apa yang sudah didapatkan selama tiga bulan perjalanan Layar Terkembang bisa menjadi indikasi bahwa KMSI akan terus membaik.
Ketua KMSI, yang tidak mau disebutkan namanya, berkata “Seperti pada perjalanan sebuah perahu layar, KMSI dalam perjalanan pasti akan diterpa angin. Kita tidak tahu kapan angin itu datang, dari mana angin itu datang, dan seberapa besar angin itu datang. Tapi kita bisa mengendalikan kapal agar angin itu membawa kita ke tujuan. Angin itu adalah masalah yang akan kita hadapi. Awak kapal adalah kita. Mari kita bersatu, berlayar. Layar sudah terkembang, angin akan mulai datang. Rapatkan barisan. Satukan tujuan. Kendalikan kapal menuju tujuan.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jangan Menilai Buku dari Penjualnya

ADA APA DENGAN LAGU 'BALONKU'?

Pertemuan Istimewa dengan Dia